Cara Membedakan Gula Asli Dengan Gula Rafinasi

Jagadnews – Gula adalah salah satu penyedap rasa. Dengan rasa manis tentunya banyak yang menyukai pemakaian gula pada panganan maupun minuman. Namun bagaimana bila anda mengonsumsi gula rafinasi. Mungkin banyak diantara kalian yang tidak mengetahui apa itu gula rafinasi dan efeknya bagi tubuh.

Gula rafinasi adalah gula mentah setelah proses pemurnian, sehingga menjadi lebih putih dibanding sebelumnya yang berwarna kecokelatan. Menurut Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), mengonsumsi gula rafinasi dalam waktu lama bisa mengakibatkan gangguan penyakit baik berupa diabetes dan tulang keropos. 

Temuan tak terduga diungkap Bareskrim Polri pada Rabu 1 November 2017: sejumlah hotel mewah dan kafe ternyata menyajikan gula rafinasi sebagai pemanis minuman para tamunya.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri, Brigjen Agung Setya mengungkapkan, temuan praktik penyimpangan distribusi gula rafinasi didapat dari penyelidikan terhadap PT Crown Pratama.

Perusahaan tersebut diduga membeli gula rafinasi seharga Rp 10.000 per kilogram dan menjualnya dalam kemasan kecil yang dibanderol Rp 130 per sachet. Konsumennya adalah sejumlah kafe dan hotel mewah.

Tak hanya di Jakarta, diduga gula kualitas industri yang tak layak dikonsumsi manusia itu juga menyebar di 56 hotel dan kafe di Medan dan kota-kota lainnya.

Cara membedakan gula asli dengan gula rafinasi

Brigjen Agung Setya meminta masyarakat untuk mewaspadai peredaran gula rafinasi. Bagaimana cara membedakannya dengan gula layak konsumsi?

Agung mengungkapkan, cukup mudah untuk membedakan gula refinasi dengan gula pasir. Hal ini bisa dilihat dari perbedaan warnanya. Gula rafinasi memiliki warna yang putih sekali namun bila gula asli warnanya adalah kekuningan.

Masyarakat diminta waspada. Sebab, kesehatan jadi taruhannya. “Itu apabila dikonsumsi lama. Bisa diabetes dan tulang keropos,” kata Agung.

PT Crown Pratama sudah beroperasi selama 9 tahun

Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri Brigjen Pol Agung Setya mengatakan, perusahaan yang menjadi target penyelidikan telah beroperasi selama sembilan tahun.

Perusahaan ini bergerak di industri pangan. Sejak 2008, menjual gula rafinasi itu ke hotel dan kafe-kafe untuk dikonsumsi,” kata Agung di Bareskrim Polri.

Agung menjelaskan, awalnya pada 2008 PT Crown Pratama hanya menjual dua ton tiap bulan, tapi kini bisa 20 ton per bulan. Diduga kenaikan angka tersebut karena banyaknya pemesanan.

Selain mengemas gula rafinasi dalam bentuk karung, Agung mengatakan PT Crown Pratama juga mengemas dalam bentuk sachet. Masing-masing sachet dengan berat bersih 6-8 gram yang dijual Rp 130 per sachet

 

Tinggalkan Balasan