Usai Dari Luar Angkasa, Astronot AS Kembali Belajar Berjalan

Astronot adalah pekerjaan yang mengharuskan seseorang berada di luar angkasa. Hal ini juga yang harus membuat para astronot harus beradaptasi dengan lingkungan luar angkasa yang tidak memiliki gravitasi. Namun apa yang mereka rasakan usai dari luar angkasa. Berikut simak pengalaman seorang Astronot AS yang kembali dari luar angkasa

Menghabiskan satu tahun di luar angkasa tentu membuat tubuh telah beradaptasi dengan bagaimana keadaan di luar angkasa. Akhirnya, para astronot seakan-akan kembali belajar berjalan ketika mereka kembali ke Bumi.

Hal ini terjadi pada Scott Kelly, astronot AS yang menghabiskan 340 hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional atau ISS pada 2015 hingga 2016 lalu. Ia adalah orang Amerika Serikat terlama di luar angkasa dan orang ke-empat terlama di dunia.

Dalam video eksklusif dari The Verge dan PBS, Kelly terlihat mencoba berjalan lurus sebelum mendarat di padang rumput Kazakhstan. Dia bahkan perlahan bangkit dan tersandung.

Disebut bahwa berjalan adalah hal yang sangat sulit, di mana kakinya terasa seperti terbuat dari jelly. Hal ini makin lama makin membaik, di mana enam jam setelah mendarat, langkah bisa sedikit lebih cepat namun belum pasti. Setelah 22 jam, dia jauh lebih stabil namun masih goyah.

Sang astronot seolah-olah seperti anak berusia satu tahun yang baru belajar berjalan.

Hal ini dikarenakan gravitasi nol di luar angkasa bertabrakan dengan orientasi kita. DI Bumi, kita tahu mana atas dan mana bawah. Di luar angkasa, kita benar-benar tak mengetahui itu. Sensor di telinga kita yang merupakan sistem keseimbangan tentu terombang-ambing di luar angkasa sana. Hal ini membuat para astronot di hari pertama akan merasa pusing dan mual.

Melansir The Verge yang mewawancarai Kelly pasca menyelesaikan misi, Kelly mengatakan bahwa di dua bulan setelah mendarat, kakiya masih sakit.

Hal ini mendorong kita untuk memahami bahwa gravitasi nol dan ruang angkasa benar-benar akan mengubah manusia. Selain itu, hal ini tentu diharap akan memperbaiki persiapan astronot di masa depan agar tak mengalami hal ini.

 

Tinggalkan Balasan